Archive for 2014

Karya Idris XII-Ipa 1


Kamis, 06 November 2014
Posted by Unknown

Karya Leli XI-Ipa 1



Luka
Rasa rindu terbesar yang pernah kurasa
Rindu saat kita bercanda tawa bersama
Rindu saat kau hapus kesedihanku
Hal ini memang berat bagiku
Tapi aku mencoba untuk tegar
Karena dia aku mampu bertahan
Meski rindu amat menyiksa
Hingga suatu hari
Ku dapati dia bersama yang lain
Betapa kecewa diri ini,
Telah lama menunggu, sia juga yang didapat
Dia yang telah buatku menyayanginya
Dia yang telah menggoreskan luka
Dia yang telah pergi meninggakan
Dia yang telah menuntunku untuk melupakannya
Rasa yang dulu pernah ada
Kini hilang begitu saja
Aku pun tak percaya
Aku mampu melupakannya
Meski dengan kekecewaan
Beribu kenangan
Rasa sayang yang tulus
Dan hati yang terluka
#StrongGirl !
Kamis, 02 Oktober 2014
Posted by Unknown

Karya Elma X-Iis

Fantun

Rambut dikuncir sambil memakai pita
Pita yang bagus merah muda warnanya 
Begitu banyak nikmat yang diberikan kepada kita
Janganlah lupa untuk selalu mensyukurinya
Posted by Unknown

Karya Hifdhi XI-Ipa 2



Pantun tentang Olahraga
Sekarang makan nangka
Nanti makan pepaya
Ayo kita Olahraga
Tahu-tahu jadi juara

Bikin kripik dari ubi
Ada cicak makan lalat
Olahraga tiap hari
Agar tubuh menjadi sehat

Jalan-jalan ke tepi pantai
Ada orang lagi berenang
Olahraga lah setiap hari
Agar hati menjadi tenang
Posted by Unknown

Karya Nafi XII-Ipa 2


Posted by Unknown

Karya Erni XII-Ips



Keseriusan Kita

Iman dan Pandu tengah duduk termenung berdua. Apa yang diucapkan Indah kemarin membuat mereka sedikit berfikir (emangnya dari dulu gak pernah mikir). “sekarang apa yang kita lakukan ndu” ujar Iman yang memulai pembicaraan. Pandu mengelengkan kepalanya. Setelah itu tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
Selang beberapa menit Iman yang sedari tadi meremas-remas tangannya karena tak tahan dengan sikap santai-santai mereka. Berdiri kemudian mengamit tangan Pandu “sebaiknya kita kerumah Indah, kita minta penjelasan sama dia”. Pandu melepaskan genggaman tangan Iman “percuma Indah udah terlanjur kesal sama kita man”. Dengan mengerutkan dahi Iman mengamit tangan pandu “kalo gak dicoba! Lo bakal tanya terus, udah ayok!” seret Iman.
Rumah indah
Sesampai dirumah Indah mereka berdua celingukan diluar pagar yang terbuat dari besi itu. “gak ada orang man” ujar Pandu yang matanya menatap kearah pintu yang tertutup. “jelas lah.. gak ada orang dimana-mana orang kaya tuh! Mainnya didalam bukan diluar. Emang lo!” ejek Iman pada Pandu yang masih celingukan. Iman mencoba menekan bel yang ada disamping pos satpam sambil berteriak “ASSALAMUALLAIKUM INDAH MAIN NYOK!” (dikira Indah anak sd). Masih tak ada jawaban, Pandu yang mulai putus asa akhirnya jongkok seperti orang minta-minta “udah deh kita pulang aja malu-maluin tau gak” kata Pandu memelas. Mendengar ucapan Pandu, Iman mengikuti jejak pandu yaitu berjongkok didepan gerbang seperti orang minta-minta. “hah… segitu marahnya yah indah ke kita” gerutu Iman.
Saat keduanya sedang memasang wajah memelas. Datanglah seorang wanita paruh tua mendatangi mereka sambil membawa nampan berisi minuman. “permisi mas-mas gak terima pengemis” goda pembantu yang bekerja dirumah Indah. Mereka berdua terkejut kemudian berdiri “eh mbok Ijah, kita bukan pengemis mbok tapi pengamen yang gak punya apa-apa jadi langsung minta uang aja yah” balas Iman dan Pandu. Mbok Inah tertawa “sama aja mas, ini mbok bawain minum pasti haus kan, 1 jam gembel disana” sambil menujuk kearah tadi. “tau aja mbok Ijah” sela mereka yang langsung meraih gelas. “ehm.. mbok Indahnya mana yah” tanya Pandu yang menyeruput habis minumannya. “oh.. mbak Indah ada kok didalam” kata mbok ijah. “what!!!!” kata mereka berdua bersamaan. “sejam kita tunggu disini! Kenapa gak keluar waktu kita teriak” kata Iman ngotot. “katanya mbak Indah gak mau ketemu kalian mbak Indah cuman nitipin ini” dengan memberikan amplop berwarna putih.  “apa nih mbok!” tanya Pandu. “gak tau mas uang mungkin, buka aja dulu” kata mbok ijah yang membereskan gelas yng diminum 2 curut ini. “makasih ya mbok” ucap Pandu. “iya sama-sama mas, saya permisi dulu” kata mbok ijah kemudian berlalu pergi. Dibuka perekat amplop itu dan Iman yang membaca Pandu hanya sebagai pendengar.
Dari : Indah
Sorry yah! Gue gak bisa ketemu kalian. Kalian pasti mau tanya kan soal kemaren udah gue perkiraiin. Gue kan udah pernah cerita kalo bokap n nyokap gue pengen punya menantu yang berseragam, yah! Seperti pilot, nahkoda, angkatan laut, angkatan darat, angkatan udara, dll. Apa aja deh yang penting seragam dan punya pangkat. Kata orang tua gue kalo gue punya suami yang kayak gitu hidupnya bakalan terjamin. Jadi kalo kalian masih ngotot sama perasaan kalian itu. Lo turutin apa keinginan orang tua gue itu. Kalo kalian bener  jadi, gue janji gak bakalan nolak salah satu dari kalian yang pertama kerumah gue. Udah itu aja, besok gue mau berangkat ke Australia gue nerusin sekolah disana selama 4 tahun. Selama itu kalian harus berjuang ok!.

                                                                                                                        Salam Indah
Pandu dan Iman hanya diam setelah membaca surat dari Indah itu. “jahat lo ndah! Kenapa keputusan lo Sepihak? Lo gak tanya ke kita dulu” teriak Iman dari luar pagar. Indah yang dari dalam melihat kearah luar jendela memperhatikan kedua temannya yang tengah marah-marah setelah membaca surat yang ia buat. “maafin gue, gue berbuat kayak gini. Karena kalian yang persulit gue” kata Indah sambil meneteskan air mata.Pandu yang masih duduk berdiam diri meneteskan air mata. Iman yang melihat temannya itu segera memeluknya dari samping “udeh, gak usah nangis”. Pandu tak begitu mendengarkan kata-kata Iman karena dia masih sibuk cari tisu buat ngelap ingusnya.
Malam hari…
Pandu tengah duduk didepan teras rumahnya yang sederhana. Sementara Iman sedang main gitar didalam kamarnya, karena situasi perasaannya sedang kacau Iman memetik gitarnya asal-asalan sampe anak bayi tetangganya nangis gak berhenti-berhenti. Selama 1 minggu mereka berdua jadi pengangguran setelah lulus SMA, mereka juga tidak mengantarkan Indah ke bandara. Menurut mereka jika mereka ikut mengantarkan malah akan menambah luka dihati keduanya (sok serius).
Hingga suatu hari ada kejadian yang membuat kehidupan keduanya menjadi berubah. Saat itu Iman sedang melamar pekerjaan sampai jam 12 siang dia masih tak mendapatkanya. Karena kecapekan akhirnya dia berhenti ditaman kota
 “ya Allah dimanakah tempat kerja yang ada lowongannya” teriak Iman (doanya aja gitu! Pantesan).
Tiba-tiba ada seseorag berbadan kekar datang menghampiri Iman sambil berkata “kalo udah tau, kita gak bakalan nyari mas. Tanya aja sama Tuhan nanti juga dikasih tau”.
Mendengar suaranya Iman langsung berdiri dan menjabat tangannya. “eh.. maaf mas suara saya keras banget yah” (dimana aja lo!).
dia hanya tersenyum kemudian menyebutkan namanya. “Farid mas” ujarnya.
Kuanggukan kepalaku “Iman, silahkan duduk mas”.
Iman memepersilahkan teman barunya itu untuk duduk. Dengan senyum ramah mas Farid duduk disamping Iman “mau cari kerja apa mas” kata mas Farid memulai pembicaraan.
“apa aja mas, tapi kalo bisa yang pake seragam kalo kerja” ujar Iman.
Kata-kata Iman tadi membuat mas Farid tertawa terpingkal-pingkal “maaf yah!Kamu mau jadi pasukan kuning, satpam atau security”.
Mendegarnya Iman juga ikut tertawa “gak lah mas, sebenarnya aku pengen melamar kerja jadi pilot”.
Sontak mas Farid yang sedang meminum kopinya langsung tersedak “apa!!”
Mas Farid menatap wajah Iman dengan tatapan aneh “emang kenapa mas, gak bisa ya”
Kemudian mas Farid kembali tertawa “bukan begitu, kata siapa gak bisa. Bisa kok! Tapi kamu harus sekolah khusus penerbangan dulu” celoteh mas Farid.
Iman membungkukan “keluar uang lagi dong mas”
Mas Farid kembali meyeruput kopinya sambil mengelengkan kepala “ hei! Kan kamu bisa ikut program beasiswa”
Iman kembali menegakkan punggungnya “yang bener mas, emang bisa! Caranya gimana mas? Mas tau darimana?”
Pertanyaan banyak dilemparkan Iman, mas Farid kembali senyum ramah dan menjelaskan “bisa, caranya lo daftarin diri lo dulu terus lo ikut tes kalo keterima nanti lo tinggal diasrama selama belajar disana. Masuk situ lo harus siap mental dan fisik itu yang diutamain karena disana kita akan diajari cara hidup serba disiplin” celoteh mas farid yang membuat Iman mangap.
“oh, lah mas Farid tau itu darimana” tanya Iman.
“gue kan lulusan penerbangan, sekarang gue udah jadi pilot” kata mas Farid dengan gagah.
Iman terkejut karena dia sekarang sedang berbicara dengan pilot sungguhan “yang bener mas, wah! Ternyata Allah dengerin doa saya mas” kata Iman
“kalo mau gue bisa bantu kok!” sambil merogoh tas ransel yang ia bawa mas Farid memberikan selembar Formulir.
“ok dech mas! Ehm… aku minta satu lagi boleh gak buat teman saya mas” kataku.
Diberikannya satu lagi selembar formulir pendaftaranya. “yaudah gue gak bisa lama-lama disini nih! Soalnya bentar lagi gue harus pulang.Kalo emang mau besok lusa jam 7 lo datang kesini, nanti gue anter kesana” kata mas Farid kemudian pamit dan pergi.
Dengan hati yang riang gembira aku bersujud dan bersyukur karena tak menyangka bisa bertemu dengan mas Farid. Dengan segera aku berlari pergi menuju rumah Pandu.
Depan rumah Pandu…
“Assalamuallaikum, Ndu keluar lo gue punya sesuatu” teriakku. Pandu yang baru saja bangun tidur kebingungan dengan tingkah Iman yang loncat-loncat aneh.
“ada apa?” tanya Pandu sambil menguap.
“buka mata lo! Sini duduk disini” kata Iman menyeret tangan Pandu.
“apaan nih?” dengan mengucek-ngucek mata
“masih tanya lagi! Ini formulir pendaftaran sekolah tinggi penerbangan ndu” kata Iman semangat.
Mendengar kata-kata Iman, Pandu langsung membuka mata dan kembali membaca formulir yang diberikan Iman kepadanya. “wah! Iya benar, lo dapet darimana nih!” tanya Pandu.
“udeh, gak usah tanya-tanya gue  dapet darimana yang penting sekarang lo minta izin sama ortu lo, trus lo siapin mental dan fisik lo. Dan yang terakhir, siap-siap lo bakalan dipanggil pak pilot sama anak kecil yang ada disekitar sini” celoteh Iman dengan tawa yang keras.
Pandu ikut tertawa dan mereka berdua saling berpelukan.
Lusa….
Pandu dan Iman sudah bersiap-siap akan berangkat untuk bertemu dengan mas Farid. “kita kesana naik apa man” tanya Pandu sambil membereskan bajunya.
Dengan senyum yang mengembang Iman berkata “jalan kaki aja dulu! Anggap aja ujian pertama biar kuat ndu”
Pandu menganggukan kepala. Akhirnya mereka berdua berangkat.
sesampainya disana mereka telah ditunggu oleh mas Farid yang duduk keren dengan mengenakan seragam kebangaanya.
“eh udah sampe! Bagus tekad kalian” puji mas Farid.
Mereka berdua tersenyum saat dipuji mas Farid. Setelah Pandu dan mas Farid berkenalan. Mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil mas Farid.
Setelah daftar Iman dan Pandu menuju sebuah aula yang dikerumuni orang banyak sedang bersiap-siap mengikuti ujian. Selam 1 jam mereka mengikuti ujian tulisan,  setelah selesai mereka berdua segera menemui mas Farid yang tengah menunggu mereka dibawah pohon rindang didepan sekolah.
“gimana ujian kalian, bisa gak?” tanya mas Farid.
“Alhamdulillah mas” jawab mereka bersamaan.
“tinggal kita tunggu hasilnya” kata mas Farid sambil memberikan kami segelas minuman yang ia belikan untuk kami.
Selang beberapa menit terdengar suara pengumuman dari pengeras suara. “bagi siswa yang telah mengikuti ujian, bisa mengetahui hasilnya dimading sekolah. Terima kasih”
Iman dan Pandu berlarian menuju madding sekolah untuk melihat hasilnya. Tangan-tangan besar seorang laki-laki memenuhi lembaran pengumuman yang ditempel dimading, melihat apakah nama mereka tercantum diselembaran itu.  Pandu sangat gembira karena namanya tercantum disana, berbeda dengan Iman wajahnya ditekuk karena namanya tidak tercantum.
“bro, gue lulus” kata Pandu sambil memeluk temannya itu
“selamet ye” kata Iman dengan suara nada rendah.
“kenape lo” tanya Pandu.
“nama gue gak ada, kayaknya gue gak lulus”
Pandu langsung kembali kekerumunan untuk mengecek kembali apakah nama teman baiknya itu tidak tercantum. Saat kembali wajah Pandu ditekuk dan mengerutkan dahi. “tuh kan! Apa gue bilang gak ada mungkin itu rezeki lo ndu” kata Iman dengan nada putus asa.
“apaan sih lo! Mata lo tuh udah rabun factor umur kali! Ini nama siapa nih” ejek pandu sambil menunjukkan selembaran pengumuman yang ia ambil dari madding.
Dengan mata yang berbinar-binar Iman memeluk Pandu dan mereka berlari memberitahu mas Farid, setelah dapat ucapan selamat dari mas farid. Mereka pulang membawa keberhasilan yang tak terduga ini.
Mereka berdua mengabarkan kepada keluarga masing sekaligus berpamitan karena 2 hari lagi mereka harus sudah kembali dan tinggal disekolah itu.

4 tahun kemudian…….
“setelah ini lo mau kemana?” tanya pandu
“seperti rencana awal, kita kesana sama-sama” jawab Iman lantang.
Setelah acara selesai, Pandu dan Iman bergegas menuju mobil.Untuk menyelesaikan satu ujian lagi.
“lo gak ada jam penerbangan hari ini” tanya Pandu.
“ada sih, kalo gak salah ke Jepang. Tapi aku minta izin libur sehari, kalo lo?” tanya balik Iman
“gak ada kosong, paling besok ke New york” jawab Pandu (kalian berdua sombong)
Mereka saling berbincang soal pekerjaan mereka dan acara peresmian mereka tadi.
Samapi didepan rumah Indah..
“assalamuallaikum, permisi ada orang didalam” teriak Iman.
“bahasa lo, mentang-mentang sekarang sering keluar negeri jadi sopan gitu” ejek Pandu.
Beberapa menit kemudian keluar laki-laki dan wanita tua yang berkacamata menemui mereka berdua.
“waalaikum sallam, cari siapa?” tanya keduanya.
“kami mencari Indah, apakah dia ada” kata Pandu.
“apakah kalia bernama Pandu dan Iman”
Pandu dan Iman menganggukan kepala. “masuklah” ajak kedua orang tua yang dari raut wajah sepetinya Iman dan Pandu mengenalnya
Mereka berdua dipersilahkan duduk. Kemudian bapak dan ibu  mengenalkan diri mereka. “perkenalkan kami adalah bapak suyanto dan ibu rahma kami berdua ini adalah orang tua dari Indah” kata mereka.
Keduanya terkejut lantas menyalami mereka berdua. “Indah banyak sekali bercerita tentang kalian, terima kasih telah jadi teman baik dari Indah” ucap ibu Rahma  pada Iman dan Pandu. Mereka berdua tersenyum mengembang.
“bu, pak apakah Indah masih di Australia” tanya Pandu penasaran. bapak Suyanto dan Ibu rahma saling bertatapan kemudian mengambil amplop putih yang sama persis dengan amplop yang pernah diberikan Indah kepada mereka 4 tahun yang lalu.
“apa ini bu?” tanya Iman.
“ibu dan bapak tidak tahu, sebelum pergi dia memberikan amplop ini dan bilang 4 tahun yang akan datang akan ada 2 orang bodoh datang kesini dengan mengenakan baju seragam yang diinginkan ibu dan bapak”
Iman dan pandu masih bingung mereka saling bertatapan.Tanpa bertanya apapun lagi mereka langsung berpamitan untuk pulang. Saat berpamitan Pandu yang masih penasaran dengan keberadaan Indah dia beranikan diri bertanya sekali lagi “bu, Indah sudah gak disini lagi, diman dia sekarang?” .ibu rahma dengan tersenyum menjawab “Indah bilang jika ingin tahu keberadaanya dimana? Semuanya ada disini” jawab bu Rahma sambil menunjuk ke amlop yang dibawanya.
Didepan Gerbang sama seperti dulu mereka membacanya sambil jongkok.
Dari : Indah

Assalamuallaikum…
apa kabar kalian? Kalo boleh kutebak kalian sekarang pasti bahagia karena bisa jalan-jalan keseluruh dunia. Kapan-kapan aku ajak yah! Maaf aku tak hadir diacara peresmian kalian jadi pilot dan co pilot. Soalnya aku bayi kecilku tidak suka keramaian, maaf yah!
saat membaca bayi kecil Iman dan Pandu saling bertatapan. Kemudian melanjutkan membaca.
Kalian pasti bertanya, bagaimana bisa aku mempunyai bayi kecil, mungil yang lucu ini.Aku lupa memberitahu kalian kalo aku sudah menikah, suamiku seorang pegawai kantoran. Haha… lucu ya! Dulu aku pengen banget foto prawedding dengan laki-laki yang pake seragam. Eh… malah pake kemeja n dasi. Sekali lagi aku minta maaf yah ndu, man. Aku yakin sekarang kalian pasti sedih, bilang aku jahat, kejam, keterlaluan dan apalah terserah aku terima. Aku akui itu aku memang orang kejam. Hey! kalian harus tersenyum jika kalian menangis aku juga akan bersedih. Kulakukan ini agar persahabatan kita akan selalu baik tidak seperti kemarin. Kalian harus tahu, bahwa kalian adalah sahabatku yang sangat baik. Jangan ada lagi bakteri yang menempel pada baju, jika ada kita harus membersihkannya sama-sama agar tak menjalar kemana-mana, apabila ada yang terkena harus dikatakan dan kita selesaikan sama-sama.Sekali  lagi sama-sama. Kita lakukan sama-sama.Aku sayang sama kalian. Aku tidak mau jika harus memilih salah satu dari kalian. Aku ingin melihat kalian sukses bersama.Dan tersenyum bersama.
Haha… aku terlalu panjang lebar yah menulis surat ini. Maafkan aku yah!

                                                                                                                        Salam Indah
. Disore hari yang gerimis diiringi tangisan Pandu dan Iman sama seperti saat Indah menangis untuk mereka berdua
End….







Posted by Unknown

Popular Post

Blogger templates

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

- Copyright © HEIJI (Himpunan Ekstra Jurnalis) MA.MASYHUDIYAH -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -